Guru Pembelajar

Guru Pembelajar

12 Cara Berkomunikasi Orang Tua Pada Anak yang Harus Dihindari

GuruPembelajar.net - 12 Cara Berkomunikasi Orang Tua Pada Anak yang Harus Dihindari

Kemendikbud sedang gencar-gencarnya mempromosikan gerakan mengantar anak di hari pertama masuk sekolah. Masih relevan dengan tema di atas, berikut ini saya bagikan gaya berkomunikasi orang tua pada anak yang dianggap wajar, padahal membawa efek yang buruk bagi perkembangan jiwa si anak.
Apa sajakah itu?

1. MEMERINTAH
Contoh :
“Nak, cepet matikan TV nya, sudah jam 3, ayo mandi, sholat, berangkat ngaji, cepetan, nanti kamu terlambat.”
Terdengar sangat perhatian sekali, tapi hal itu bisa menyakitkan jika orang tua memerintahnya dari jarak jauh tanpa menyentuhnya, tanpa menatap matanya, tanpa berkomuniķasi lebih lanjut dengan anaknya.
gaya berkomunikasi orang tua yang salah

2. MENYALAHKAN
Contoh :
Sang anak sampai di rumah mengeluh kalau tadi di jalan macet. Dia curhat kepada ayahnya, lalu sambil nonton TV ayahnya menjawab,
“Tuh kan.. ayah bilang juga apa, jangan lewat jalan itu, pasti macet, coba kamu nurut sama ayah, lewat jalan yang udah yang bilang tadi, pasti nggak kena macet dan sampai rumah nggak kesorean”
Ayah yang terdengar bijak. Tapi ternyata, jika anak dalam kondisi lelah di “ceramahi” seperti itu, efeknya bisa negatif, bukannya sadar, justru malah “marah” kepada ayahnya. Mungkin dalam hati anak akan berkata “yaaelaaa.. udah capek, sampai rumah masih aja di ceramahin”
Oh, ada satu contoh lagi, biasanya ini terjadi kalau anaknya masih kecil. Misal, ada anak yang terpeleset di lantai, si anak nangis, apa yang biasa orang tia katakan? “Sayang..cup..cup.. sudah..sudah, mamah pukul ya lantainya.. huh.. lantainya nakal”
Hmm.. o..oouuu.. jangan salahkan si anak kalau kelak ketika dewasa dia tidak sadar dengan kesalahan dirinya, tapi lebih utama menyalahkan orang lain.

3. MEREMEHKAN
Si anak jatuh nih, sakit, lututnya berdarah.
“Huaaaaa… mamaaah, kaki ku berdarah mah, habis jatuh disana”
Mamahnya menjawab, “udaah, nggak apa-apa.. kakak kuat kok.. hayoo.. cowok nggak boleh cengeng” duoorr!!  Mungkin kalau anaknya udah bisa merespon langsung, ia pasti akan berkata “duh, Mamah plis, ini sakit mah”. Bagi orang tua itu hanya luka biasa. Tapi, bagi anak, sakit tetaplah rasa sakit. Disini, orang tua tidak menyadari bahwa, kalimat diatas membuat anak merasa di remehkan oleh orang tuanya.

4. MEMBANDINGKAN
Nah, ini.. biasanya orang tua membandingkan anak dengan anak yang lain sebenarnya dengan tujuan baik, agar anaknya termotivasi. Tapi, kalau penyampaian nya tidak tepat, lagi-lagi ngefek negatif ke anak.
Contoh :
Didalam sebuah keluarga di karuniai dua orang putri. Yang satu tomboy, yang satu cewek banget. Lalu muncullah kalimat ini,
“Aduh nduk.. mbok ya kamu itu seperti kakak mu, belajar yang rajin, biar masuk IPA, kalau IPA itu mau kemana aja bisa. Lihat kakak mu sekarang, masuk manajemen bisa, lulus di terima kerja di bank. Kamu ini bikin puisii, biki  lagu aja, mau jadi apa?? Belajar yang rajin, nilai kok remidi semua”
Hayalaaaah😀 pernah digituin? Hahaha sabar ya. Mungkin tidak sama persis, tapi mirip-miriplah, pasti pernah kita dibanding-bandingkan dengan orang lain dan hati rasanya nggak enak. Nah, klo sudah tau rasanya nggak enak, besok kalau sudah punya anak, jangan melakukan hal yang sama ya:) setiap pribadi itu unik:) (mengingatkan diri sendiri)

5. MENCAP / MELABEL
“iya.. annisa memang anaknya pemalu, suka nggak pede kalau ada di depan banyak orang”, kata si Ibu. Hmm.. ketika kalimat itu juga di dengar anaknya, apa yang terjadi? Di dalam otak bawah sadar anak sudah tertulis besar bahwa “SAYA PEMALU, SUKA NGGAK PEDE KALAU ADA DI DEPAN BANYAK ORANG” kalau bicara tentang mencap anak ini, saya jadi teringat sebuah film berjudul Gifted Hands, bagus banget, Ibu nya keren banget:) anak yg mendapat nilai buruk di sekolah, suatu hari dipanggil ke sekolah dan ia berkata “ibu, saya bodoh”, ibunya selalu berkata “No… you are smart boy, kamu bisa menjadi apa saja yang kamu mau, Tuhan tidak menakdirkan mu menjadi bodoh, you have all the world inside you” Ibunya mengucapkan itu sambil mengusap kepala anaknya, mengatakan dengan lembut dan matanya fokus menatap mata sang anak. Ibunya yang single parent, pas pasan, rela memindahkan anaknya ke sekolah yang lebih “menghargai” si anak, walaupun ternyata tidak jauh berbeda keadaannya, si ibu berusaha keras memilihkan acara TV yang berkualitas untuk anaknya dan mewajibkan anaknya membaca dan merangkum 2 buku per minggu. Hingga akhirnya kedua putra nya itu berhasil. salah satunya menjadi dokter pertama yang berhasil memisahkan kepala anak kembar siam, beliau adalah dr. Ben Carson:)

6. MENGANCAM
Pernah mendengar kalimat ini, “sudah sudah, jangan nangis..cup..cup.. nanti digigit grandong lho.. hayo.. ndong.. grandong. Ini ndong, adek nangis terus ndong” si anak lalu diem, ketakutan. Lalu si ibu kembali berkata “sudah grandong, jangan gigit ya, adek udah mau bobok kok”
Hmm… ternyata itu tidak baik ya, tapi, terdengar biasa, bahkan TERBIASA. -_-

7. MENASEHATI
Sama seperti yang sudah dibahas beberapa poin sebelum ini. Menasehati anak memang baik. Tapi, kadang orang tua tidak melihat kondisi anak nya. Pulang-pulang capek, dimarahi pula gara-gara nilai.
Contoh :
“Ayah, aku bahasa inggris dapat 85”
“Gimana sih, kok nggak bisa 90, mau jadi apa kamu nak? Bahasa inggris itu penting banget, kamu harus menguasainya”
Hadooohhh ayaaaahh, plis deh -_-

8. MEMBOHONGI
Ketika di Mall, Ibu belanja memilih baju-baju, sedangkan di depan tempat baju ada tempat jualan mainan, karena nggak mau si anak kemana-mana, apa yang dikatakan ibunya?
“Awas jangan kesana nanti dimarahi pak satpam, sini aja deket Ibu”
Iseng, nama nya juga anak, ujiannya orang tua, si anak mencoba lari ke tempat mainan. Apa yang terjadi? Pak satpam nya nggak marah kok. Yang marah justru Ibu nya, karena anaknya nggak nurut deket-deket Ibu. Apa yang ada dipikiran anak? “Ooh, Ibu bohong. Ini nyatanya pak satpam nggak marah kok.”

9. MENGHIBUR
Biasanya, seiring bertambahnya usia, anak mulai mengerti ketika ayahnya pergi bekerja. Ketika itu, dia mulai nangis setiap kali ayahnya pergi. Si ayah bilang, “ayah cuma keluar sebentar kok, sebentaar aja, nanti pulang ayah bawakan es krim ya”. Eh, pulang-pulang nggak bawa es krim. Udah dihibur, tapi menghiburnya kosong, malah si anak merasa dibohongi.

10. MENGKRITIK
“Ayah.. aku ranking 5”
“Kamu itu nak..nak.. kok ranking lima terus, mbuk ya sekali-sekali ranking sati”
Walaupun nadanya tidak marah, tapi kalimat itu bisa saja “menusuk” hati sang anak. Karena terlalu banyak kritikan dan kurang apresiasi. Si anak bisa saja mencari apresiasi diluar. Contoh, anak yang kecanduan main game, bisa saja karena kurang apresiasi. Kok bisa? BISA. ketika kita bermain suatu game, naik satu level saja di kasih ucapan “CONGRATULATION” didukung tepuk tangan yang meriah. Iya g? Iya. Hal yang kelihatannya sepele, tapi kalau di dunia nyata tidak didapatkan, yaa game itu jadi obat nya para anak yang sepi apresiasi dari orang tuanya.

11. MENYINDIR
“Terus..terus.. kurang dekat kalau nonton TV. Terus aja gitu, nanti kalau matanya minus baru kapok”
Naah, tujuannya baik nih, mengingatkan, tapi ternyata efek nya buruk, wahai ayah ibu.

12. MENGANALISA
Itu tadi adalah 12 Gaya Komunikasi antara orang tua dan anak yang biasa terjadi namun membawa efek buruk kepada sang anak.

Bagaimana, adakah gaya berkomunikasi yang cocok dengan yang bapak/ibu terapkan selama ini? Kalau iya, maka pikirkan kembali apakah gaya tersebut cocok dan mempunyai efek yang baik untuk perkembangan si anak.
Terima kasih sudah berkenan membaca, semoga ada manfaatnya.

Sumber: https://lintangforindonesia.wordpress.com