Guru Pembelajar

Guru Pembelajar

Surat Edaran Larangan Memberi PR dan Larangan Study Tour

Larangan memberi PR dan Larangan Study Tour - GuruPembelajar.net

Surat Edaran tentang Pemberian tugas kreatif produktif pengganti pekerjaan rumah dan Larangan Penyelenggaraan Karya Wisata.

Dalam upaya mendukung dan mewujudkan pendidikan berkarakter, dimana pendidikan bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdaqsan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara, maka pemerintah daerah ikut berpartisipasi dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sinergis terhadap implementasi pendidikan berkarakter di sekolah.

Salah satu wujud perhatian dan partisipasi pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan ditampakkan oleh Bupati Purwakarta, Bapak Dedi Mulyadi dengan membuat kebijakan yang cukup populis, yakni mengeluarkan surat edaran yang melarang sekolah memberikan pekerjaan rumah normatif dan bersifat pembebanan akademis. Mulai hari senin kemarin Beliau resmi memberlakukan pelarangan pemberian pekerjaan rumah (PR) akademis untuk para siswa jenjang SD-SMA di daerahnya, Surakarta.
Larangan Memberi PR dan Larangan Study Tour
Surat Edaran Larangan Memberi PR dan Larangan Study Tour

Larangan pemberian PR tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Purwakarta No 421.7/2014/Disdikpora. Surat yang ditandatangani pada tanggal 1 September 2016 ini pun langsung disosialisasikan ke pelaksana di lapangan; guru dan kepala sekolah.

Di hadapan ratusan guru, Bupati Dedi Mulyadi menjelaskan, pekerjaan rumah yang harusnya diberikan kepada siswa adalah PR yang aplikatif, misalnya kegiatan beternak yang diterjemahkan dalam kerangka pendidikan akademis.


Selama ini, PR akademis yang diberikan kepada siswa serupa dengan materi akademis di sekolah yang semestinya merupakan kegiatan yang dapat diselesaikan di sekolah.

Dengan adanya surat edaran ini diharapkan nantinya pekerjaan rumah peserta didik diganti dalam bentuk kerja kreatif produktif yang mampu merangsang dan menumbuhkan potensi, minat peserta didik.

Contohnya pada pelajaran Bahasa Indonesia, Guru bisa memberikan tugas membuat cerpen tentang sang gembala. Mulai dari pengalaman, hingga penghayatannya.

Begitu pula dengan pelajaran Biologi ataupun Kimia, siswa bisa diminta membuat kompos atau pupuk organik dari kotoran domba.

Dengan cara ini, siswa dapat langsung mempraktikkan teori yang diberikan di sekolah.

Untuk mata pelajaran Matematika, di rumah siswa bisa menghitung berapa ukuran kandang domba yang dibutuhkan. Selain itu, siswa akan mencari atap paling cocok sehingga menghasilkan suhu udara seperti apa.

Bukankah menjadi sebuah ironi, ketika kita belajar Fisika, Matematika, Kimia, tetapi ruangan tetap saja pengap.

Seharusnya, bisa dihitung, satu kelas yang berisi 32 orang membutuhkan berapa banyak oksigen. Untuk mendapatkan itu, hitung berapa jumlah jendela yang dibutuhkan.

Tak hanya itu, agar sirkulasi lancar, maka di luar jendela harus ditanami tanaman. Begitu pun jika sekolah jelek, siswa bisa menghitungnya dengan membawanya ke laboratorium, misalnya siswa mengambil sampel tembok yang buruk.

Di laboratorium, kadar apa yang kurang akan diketahui, contohnya semen. Dengan penemuan ini, siswa bisa menyimpulkan pembuatan kelas koruptif.

Ketika kelak si anak jadi Menteri Pekerjaan Umum, dia harus bisa menghitung itu. Pemberian tugas aplikatif itu pun secara tidak langsung mengajarkan antikorupsi.

Dalam artian lain, pekerjaan rumah untuk siswa harus berupa terapan ilmu untuk mendorong siswa lebih kreatif.

Contoh: jika anak senang dengan sepak bola, anak bisa belajar menganalisis tentang olahraga itu. Misalnya aturan tendangan 12 pas, benar tidak jaraknya 12 meter.

Sudah semestinya PR itu disesuaikan dengan minatnya. Jika siswa hobi membuat sambal, maka diarahkan bagaimana siswa mahir menyambal. Anak suka dengan puisi bikin puisi, temanya misalkan tentang hewan ternak.

Tugas aplikatif ini juga mampu menjawab isu yang tengah beredar, seperti kasus antraks. Anak-anak jurusan Biologi seharusnya diturunkan ke kampung untuk mengetahui penyebabnya.

Setelah mengecek ke lapangan dan mendapat teori di sekolah, anak bisa membuat jurnal ataupun hal-hal kreatif untuk memerangi antraks.

Nantinya siswa akan pintar membangun opini. dan menjadi peka/kritis dalam memandang sebuah persoalan.

Selain melarang pemberian PR Akademis, surat edaran itu juga mengatur tentang pemanfaatan libur sekolah.
Semestinya libur sekolah bisa digunakan sebagai batas waktu pengumpulan tugas kreatif dan produktif lainnya.

Satu lagi, di dalam surat edaran di atas selain pelarangan memberikan PR akademis, sekolah juga dilarang menyelenggarakan kegiatan karya wisata (study tour).

Demikian yang bisa saya bagikan, semoga ada manfaatnya.